PERTANIAN

BUDIDAYA TANAMAN

PENDAHULUAN

Kebutuhan manusia akan pangan dan lainnya semakin lama semakin meningkat seiring dengan pertambahan populasi dan pola hidup masyarakat. Kebutuhan tersebut sebagain besar berasal dari tanaman baik itu tanaman pangan, tanaman sayuran, tanaman buah, tanaman keras dan lainnya. Sehingga merupakan potensi yang besar bagi kita untuk melakukan kegiatan dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman.

Budidaya tanaman sebagai kegiatan produksi mempunyai tujuan untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin melalui proses produksi persatuan luas yang tinggi dan berkualitas baik. Harga jual produk yang layak dan mengutungkan, sumberdaya yang efisien selama proses produksi serta penggunaan teknologi yang bijaksana sehingga tidak menimbulkan kerusakan lingkungan atau menurunnya potensi sumberdaya baik dalam jangka pendek ataupun panjang.

Tahapan budidaya tanaman juga mempengaruhi pada tingkat produktifitas tanaman. Tahapan budidaya tanaman dimulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan proses pemeliharaan lainnya yang berakhir pada proses pemungutan hasil. Sehingga tahapan – tahapan ini harus mendapat perhatian yang seksama agar tanaman yang dibudidayakan dapat menghasilkan produk yang tinggi dan berkualitas.

PERSIAPAN LAHAN

Persiapan lahan dapat diartikan sebagai upaya menyiapkan lahan sehingga layak sebagai tempat dilakukannya kegiatan pembudidayaan tanaman. Kegiatan pesiapan lahan ini berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman yang akan diusahakan, system budidaya yang diterapkan dan produksi tanaman yang diinginkan.

Secara umum kegiatan persiapan lahan meliputi :

a. Pembersihan Lahan

Pembersihan lahan merupakan kegiatan untuk membersihkan semak, rumput dan sisa tanaman produksi sebelumnya yang tumbuh pada lahan. Pembersihan lahan ini dapat dilakukan dengan pembabatan, penggunaan herbisida, pencabutan dan pembakaran sisa-sisa tanaman. Cara pembersihan lahan yang baik adalah dengan pembabatan lalu mengumpulkan pada tempat tertentu untuk selanjutnya dijadikan kompos dan dikembalikan lagi ke lahan dalam bentuk pupuk kompos.

b. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah merupakan tindakan mekanis terhadap tanah yang ditujukan untuk menyiapkan tempat tumbuh, mengurungi gulma, memperbaiki kondisi biologis, kemis dan fisik tanah sehingga sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan untuk menampilkam performen sesuai dengan rencana produksi. Pengolahan tanah tidak banyak mengalami perubahan namun terdapat beberapa metode secara konvensional sampai yang khusus seperti pengolahan dalam strip dan vertical mulching.

Aspek yang harus diperhatikan dalam pengolahan tanah adalah : persyaratan tumbuh tanaman, system dan kedalaman akar, produk tanaman, umur panen. Aspek secara lingkungan adalah : intensitas curah hujan, pH tanah, kemiringan tanah, kandungan unsur hara, kandungan bahan organic, populasi hama dan penyakit serta gulama yang menimbulakan biaya tinggi.

Praktek pengolahan tanah ada 3 :

1. Secara Intensif : untuk tanaman yang berumur pendek dan bernilai ekonomis tinggi.

2. Membuat lubang tanam : umumnya dilakukan pada tanaman perkebunan atau dengan jarak tanam yang cukup luas.

3. Tanpa pengolahan tanah : dilakukan pada tanah kering dengan memanfaatkan sisa kelembaban tanah/air.

Kegiatan pengolahan tanah secara intensif dimulai dari pembalikan tanah dengan membajak dan penggemburan tanah dengan garu atau rotary.

c. Pembentukan Bedengan

Pembentukan bedengan dilakukan untuk tanaman semusim atau berumur pendek. Pembentukan bedengan dipengaruhi system irigasi, kelembaban tanah, musim tanam, ketahanan akar terhadap kondisi jenuh serta sifat tanah. Tujuan pembentukan bedengan adalah agar tanaman dapat hidup pada lahan yang cocok untuk pertumbuhan.

d. Pembuatan Lubang dan Pemberian Pupuk

Pemberian pupuk dasar yang berupa pupuk organik dan anorganik bertujuan menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman pada awal pertumbuhan. Jumlah dan dosis pupuk tergantung dari tingkat kesuburan tanah, kebutuhan tanaman, frekuensi pemberian pupuk dan system penanaman.

Pembuatan lubang tanam dilakukan dengan cara membuat lubang tanam dan menggemburkan tanah disekitar lubang. Bila dengan sistem mulsa plastik, pembuatan lubang tanam perlu dilakukan dengan teratur dan jarak yang tepat agar memudahkan dalam melubangi plastik mulsa.

PENANAMAN TANAMAN (TRANSPLANTING)

Penanaman adalah proses penanaman tanaman baik berupa bibit atau biji dalam lahan tanam. Tahapan budidaya ini sangat penting diperhatikan karena akan menentukan keberhasilan suatu usaha tanaman. Pemilihan bibit, pengaturan jarak tanam serta cara menanam yang baik akan mengoptimalkan produksi tanaman.

Proses penanaman pada bedengan bermulsa plastik dengan bibit tanaman dalam polybag sebaiknya bedengan dalam keadaan basah supaya lembab dan mudah membuat lubang tanam. Besarnya lubang tanam lebih besar dari ukuran polybag bibit tanaman. Bibit tanaman dikeluarkan bersama dengan tanahnya sebaiknya polybag disiram terlebih dahulu. Bibit segera ditanam dalam lubang kemudian ditutup dengan tanah. Tanaman disiram agar cepat tumbuh dan tidak layu.

Permasalahan yang sering timbul dalam penanaman adalah :

1. Pemilihan bibit yang terlalu tua dan besar.

2. Pengangkutan dari tempat persemaian ke lahan tanam.

3. Melepas bibit dari polybag.

PENGENDALIAN HAMA, GULMA DAN PENYAKIT

Kerusakan tanaman diakibatkan oleh serangan hama atau infeksi pathogen yang dapat memicu abnormalitas proses fisiologis, pada akhirnya menimbulkan penurunan hasil maupun kegagalan panen. Pengendalian kedua organisma pengganggu tanaman dapat dilakukan secara preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan). Cara pengendalian tersebut harus memperhatikan aspek lingkungan, tanaman yang diusahkan dan organisma yang mengganggu.

1. PENYAKIT TANAMAN

Stakman dan Harrar (1957) menyatakan bahwa penyakit tanaman adalah suatu penyimpangan dari pertumbuhan normal yang mengakibatkan penurunan kualitas hasil atau penurunan nilai ekonomi. Beberapa penulis menyatakan bahwa tanaman sakit apabila tanaman terinfeksi oleh suatu factor yang mengganggu aktivitas normal dari sel atau organ tanaman. NH White menjelaskan penyakit tanaman adalah suatu penyimpangan fungsi fisiologis tanaman yang menyababkan gangguan pada aktivitas penting, akhirnya tanaman menampakkan pengaruh gangguan fisiologis dalam bentuk gejala-gejala.

a. Gejala Penyakit Tanaman

· Rusak atau matinya jaringan tanaman inang.

· Layu,mati muda dan gabungan dari berbagai gejala.

· Pertumbuhan abnormal dan dan beraneka ragam disfungsi organ tanaman.

· Perubahan warna jaringan tanaman.

b. Penyebab Penyakit Tanaman

Ada dua type penyebab penyakit tanaman yaitu :

· Parasistik : gejala yang tampak disebabkan oleh makhluk hidup. Penyababnya ada 2 yaitu 1) Parasistik penting yaitu nematode, arthopoda, fungi, bakteri dan virus. 2) Parasistik tidak penting yaitu : alga,protozoa, molusca dan mamalia.

· Non Patogenik/ penyakit Fisiologis : Gejala yang muncul disebabkan oleh gangguan lingkungan, yakni ketidakseimbangan nutrisi, suhu yang tidak menguntungkan, kekurangan O2, kelebihan CO2 dan karena polutan.

c. Menetapkan Penyebab penyakit

Proses penentuan penyakit tanaman tidak didasarkan pada satu gejala saja. Sebagai contoh luka nekrotik pada daun tanaman mungkin disebabkan oleh sejumlah agen pathogen dan non pathogen. Hal serupa terjadi yaitu gall pada tanaman mungkin dinduksi oleh serangga, nematoda, jamur, bakteri atau virus serta agen non patogenik yakni hormon dari gulma. Hal diatas merupakan realita esensial untuk mempermudah dalam melakukan diagnosa penyebab penyakit.

d. Diagnosa Penyakit

Langkah-langkah mendiagnosa penyakit tanaman :

· Menentukan penyebab penyakit secara sistematis.

· Menentukan berbagai pathogen yang mungkin timbul.

· Mengamati secara rinci untuk memastikan gejala penyakit yaitu dengan menggunakan mikroskop atau loup (kaca pembesar).

· Jika diketemukan nematode, serangga atau jamur maka perlu dicurigai adanya hubungan timbal balik antara organisme yang ada dengan penyakit tersebut.

· Melakukan identifikasi hubungan timbal balik antara organisme yang ada dengan penyakit tersebut.

· Melakukan uji postulat koch untuk meyakinkan hubungan organisme satu dengan penyakit parasit.

e. Contoh Penyakit Tanaman

· Penyakit belang (peanut mottle disease) oleh virus, gejalanya berupa belang-belang pada daun dan merata. Daun muda gejalanya belum tampak nyata. Penularannya dapat melalui biji, serangga vector (aphis craccivora dan aphis glycines), tanaman inang yaitu kedelai dan kacang panjang.

· Penyakit layu (wilt disesase) : oleh bakteri pseudomona solanacearum, gejalanya layu seperti tersiram air panas kemudian tanaman akan kering dan mati. Penularan melalui irigasi atau tanah bekas tanaman yang pernah diserang, tanaman inang yaitu ubi kayu dan keluarga solanaceace (tomat dan kentang)

· Penyakit sapu setan (witches brooms disesase) : oleh virus, gejalanya terbentuk daun-daun kecil mengerombol seperti sapu dan tanaman menjadi kedil. Penularan oleh sebangsa wereng, tanaman inang yaitu kedelai, kacang hijau dan ketela rambat.

· Penyakit becak daun (leafspot disesase) : oleh cendawan cercospora personata, gejalnya terdapat bercak-bercak coklat pada daun. Pada serangan berat bercak menjadi satu dan daun mengering. Pemupukan N dan P yang berlebihan akan memperhebat serangan cendawan.

f. Pengendalian Patogen pada Tanaman

Pengendalian patogen ada dua yaitu :

· Preventif dapat dilakukan dengan menggunakan benih varietas unggul, benih bebas pathogen yakni melalui perlakuan (perendaman air panas atau bahan kimia) dan pemeliharaan sanitasi kebun.

· Kuratif /pengendalian mekanis yaitu mencabut/mengeluarkan tanaman/bagian tanaman yang terifeksi pathogen, sedangkan pengendalian kimiawi yakni menggunakan fungisida, baterisida dengan teknik spraying (semprot).

2. HAMA TANAMAAN

Hama dapat diartikan sebagai kelompok hewan yang bersifat merugikan tanaman. Kerugian tanaman terjadi kerusakan organ tanaman (daun, batang, pucuk dll) sehingga proses fisiologis terganggu dan akibatnya tanaman gagal panen/mati. Kelompok hama adalah insekta, contoh : belalang, thrips. Kelompok insekta ada yang menguntungkan misal sebagai predator dan penyerbuk tanaman.

Contoh hama yang menyerang tanaman :

· Ulat korok (stomapterix subsecivella), tanda-tandanya lubang korokan tampak mengelembung berwarna coklat muda sepanjang tulang daun dan akhirnya daun mengering.

· Sikadelida (eepoasca sp) merupakan serangga hijau laut, pandai meloncat dan bersembunyi di bagian bawah daun. Menyerang tanaman dalam fase nimfa dan serangga dewasa yaitu dengan cara menghisap cairan sel tanaman.

· Kutu daun (aphis sp) menyerang tanaman dengan cairan sel tanaman.

· Penggulung daun (lamprosema indicata) tanda serangan berupa daun yang direkatkan menjadi satu.

· Thrips menyerang tanaman pada fase nimfa dan imago dengan cara meraut dan menghisap cairan sel tanaman. Tanda-tanda awal yaitu bila daun dihadapkan pada sinar matahari akan tampak bintik-bintik berwarna putih, kemudian bintik-bintik tersebut meluas dan akhirnya daun menguning dan mengering.

Pengendalian hama tanaman

Pengendalian hama secar praktis dapat dilakukan dengan memperhatikan beberap criteria dasar yaitu yang berkaitan dengan efektifitas dan keamanan. Perkembangan hama dipengaruhi oleh cuaca, teknik budidaya, kepekaan tanaman dan competitor. Dengan hal tersebut maka pengendalian hama secara praktis dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

· Sistem antagonis suatu hama.

· Kapan/fase apa suatu hama menyerang tanaman.

· Tahapan kritis dan siklus hidup suatu hama.

3. GULMA TANAMAN

Gulma merupakan tumbuhan yang tumbuh ditempat yang tidak dikehendaki, oleh karena itu gulma sering disebut sebagai tanaman pengganggu. Kehadiran gulma di sekitar tanaman budidaya sulit untuk dihindari bila lahan tanaman kurang perawatan.

a. Persaingan dan Pengendalian

Gulma yang tumbuh akan mengakibatkan penurunan laju pertumbuhan serta hasil akhir tanaman. Karena secara fisik gulma bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal ruangan dan cahaya, sedangkan secara kimia dalam hal kebutuhan air, nutrisi, gas-gas penting serta dalam peristiwa alelopati.

Persaingan dapat berlangsung apabila komposen yang dinutuhkan berada dalam jumlah terbatas. Mengatasi persaingan antara gulma dan tanaman pokok yang akan mempengaruhi produksi tersebut adalah dengan pemberantasan atau pengendalian gulma disekitas tanaman budidaya.

b. Cara Pengendalian

· Secara Mekanis : dilakukan dengan kekuatan fisik atau mekanik baik dengan alat sederhana atau berat.

v Pencabutan Gulma dengan tangan atau dengan alat sederhana berupa cungkis, atau kored cocok dilakukan untuk gulma yang tipe perakarannya dangkal.

v Pengolahan Tanah merupaka cara praktis yang dapat diterapkan pada gulma annual, biennial dan perennial. Pengendalian gulma annual cukup dibajak dangkal saja, gulma biennial dirusakkan bagian gulma diatas tanah, sedangkan gulma perennial dirusakkan bagian diatas dan dibawah tanah.

v Penggenangan adalah kombinasi pengolahan tanah dengan pengenangan sampai seluruh bagian gulma terendam dalam air merupakan cara pengendalian yang efektif untuk jenis-jenis gulma yang tidak tahan genangan air.

· Secara Pola Tanam

Bercocok tanam secara bergiliran dapat mengurangi terjadinya akulmulasi gulma karena pergilirian tanaman memberi kemungkinan segolongan gulma tidak mempunyai keaempatan mengganggu perkembangan tanaman berikutnya.

· Secara Biologis

Ada jenis-jenis hama atau pathogen yang spesifik menyerang gulma tertentu sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengendalian gulma. Namun harus hati-hati jangan sampai setelah gulma habis dimangsa, tanaman pokoknyapun ikut diganggu.

· Secara Preventif

Beberapa hal yang dapat mengurangi tumbuhnya gulma adalah sebagai berikut :

v Penggunaan benih yang tidak tercampur dengan biji-biji gulma.

v Pemilihan pupuk organic yang tidak membawa biji gulma.

v Penggunaan alat budidaya yang bersih dari gulma.

v Penggunaan air pengairan yang tidak tercemar gulma.

· Secara Kimia

Merupakan pengendalian dengan menggunakan bahan kimia yanag dapat menekan bahkan mematikan gulma, bahan kimia tersebut adalah herbisida.

c. Penyiangan Gulma pada Tanaman

Prinsip penyiangan gulma gulma tidak hanya ditujukan pada bagian tanaman diatas tanah saja tetapi bagian tanaman di bawah seperti umbi, rimpang atau akarnya yang kemungkinan dapat digunakan sebagai alat perkembangan bagi gulma itu sendiri.

Pembubunan (pendangiran) adalah pemggemburan dan penimbunan tanah disekitar batang utama di bawah kanopi suatu tanaman. Pembubunan ini bertujuan agar tanah disekitar menjadi gembur dan gulma disekitar tanaman dapat diberantas.

PEMELIHARAAN AYAM BROILER

PERMASALAHAN SELAMA PERIODE PEMELIHARAAN

A. PERODE STARTER

1. Kualitas DOC jelek

2. Tingkat kematian tinggi

3. Pertumbuhan tidak seragam dan Berat badan rendah

4. DOC mengalami stress

5. Panas tidak bekerja secara optimal

6. Kegagalan vaksinasi

Tabel 2: Standar bobot badan, konsumsi ransum

dan konversi ransum.

Hari ke

Minggu

Konsumsi

I

II

III

IV

V

VI

1

1,0

3,5

6,0

8,0

11,0

14,0

2

1,0

3,5

6,0

8,0

11,0

14,0

3

1,5

4,0

6,0

9,0

12,0

14,0

4

1,5

4,0

6,0

9,0

12,0

15,0

5

2,0

5,0

7,0

9,0

13,0

15,0

6

2,5

5,0

7,0

10,0

13,0

15,0

7

2,5

5,0

7,0

10,0

13,0

15.0

Jumlah

12,0

30,0

45,0

63,0

85,0

102

Kumulatif

12,0

42,0

87,0

150

235

337

Bobot (gr)

120

320

600

870

1312

1755

Konversi Pakan

1,0

1,31

1,45

1,72

1,79

1,92

1. Kualitas DOC jelek : Berat badan tidak seragam, terkena omphalitis dan kaki kering (dehidrasi).

Cara mengatasi : memilih breeder yang memilikistandar yang ketat dan teruji di lapangan, menyeleksi dan mengafkir sesegera mungkin serta mengembalikan DOC pada tempat pembelian.

Tabel 3. Program Pemeliharaan dan Pencegahan

Penyakit pada Ayam Broiler

Umur (Minggu)

I

II

III

IV

V

VI

Ransum

Ransum Awal, protein 21 – 24%

Ransum Akhir, protein 19 – 21%

Vaksinasi

4 hari Vak.ND

11 hari Vak.Gum.

21 hari Vak. ND




Seleksi

Um. 1 hari






Luas Kandang

Jika fase awal dan akhir tidak dipisah, cukup 8 – 10 ekor per m2

Penerangan

Diberikan selama pemeliharaan

Pencegahan CRL

Um. 1-3


X


X


Pencegahan Coccidiosis


Um. 7-8

U. 15 hari

U. 23 hari

U. 28 hari


Pengabatan Cacing





X


Perangsang Tumbuh

Diberikan selama pemeliharaan

Sanitasi Lingkungan

Awal pemeliharaan




Um. 28 h.


Pencegahan Stress

Minggu I

U. 11 hari


U. 25 hari



Pencegahan Infeksi



U. 15 hari




2. Tingkat kematian tinggi : Penyebab utama kematian adalah kualitas DOC jelek, kesalahan tata cara pemeliharaan, ayam terserang penyakit (omphalitis, avian encephalomyelitis dan difisiensi nutrisi) serta ayam mengalami stress berat.

Cara mengatasi : memelihara DOC yang berkualitas baik, menerapkan menejemen pemeliharaan yang baik, menghindari penyebab stress dan menghindari panas yang berlebihan dengan memastikan ventilasi bekerja dengan baik.

3. Pertumbuhan tidak seragam dan Berat badan rendah : Kualitas DOC sudah tidak merata dan bobot badan rendah, mismanagement terutama imbangan tempat pakan dan minum dengan DOC, temperatur panas tidak ideal, kesalahan pemberian pakan dan minum seperti pemberian tidak rata dan sering kosong, kepadatan ayam terlalu tinggi, ventilasi tidak berfungsi dan ayam mengalami sakit.

Cara mengatasi : DOC harus uniform, management yang baik, temperatr menyebar merata, ketersediaan pakan, kepadatan harus ideal dan ventilasi bebas.

4. DOC mengalami stress : Kendala ayam di daerah tropis adalah DOC mudah stress akibat udara di lingkungan kandang cukup tinggi. Cara mengatasi adalah dengan melakukan pengendalian iklim mikro dalam kandang.

5. Pemanasan tidak berjalan dengan optomal : Temperatur yang tidak ideal akan berpengaruh negatif terhadap kondisi dan tingkat pertumbuhan ayam. Cara mengatasi : pada masa kritis (minggu I dan II) temperatur pemanasan harus sering dikontrol sehingga bila terjadi kejanggalan bisa cepat ditangani.

6. Kegagalan Vaksinasi : Beberapa perlakuan yang salah dalam vaksinasi akan berpengaruh negatif pada ayam. Cara mengatasi : Prosedur dan tata cara vaksinasi harus diikuti dengan benar, kondisi ayam dalam keadaan sehat dan memberi vaksin tepat pada waktu dan tepat aplikasinya.

Tabel 4. Program Vaksinasi Ayam Broiler

NO

Nama Vaksin

Umur Vaksinasi

Matode Vaksinasi

Pencegahan Penyakit

1

ND B1 Hitcher

3 – 4 hari

Tetes mata /

Tetes hidung

Penyakit ND

2

Medivac / Gumboro A atau B

10 – 11 hari

Tetes mulut

Penyakit ND

3

ND Lasotta

21 hari

Suntik / air minum

Penyakit ND

B. PERIODE FINISHER

1. Pertumbuhan ayam tidak seragam

2. Ayam terserang penyakit

3. Keadaan litter basah dan kandungan Gas ammonia tinggi

4. Ayam mati mendadak

5. Terjadi kanibalisme

6. Konversi pakan tinggi

1. Pertumbuhan ayam tidak seragam : penyebabnya adalah bibit ayam tidak seragam, terjadi kesalahan management selama periode pemanasan dan pertumbuhan, rasio ayam jantan dan betina tidak seimbang, jumlah tempat pakan dan minum tidak memenuhi kebutuhan ayam dan ayam terserang penyakit.

2. Ayam terserang penyakit : beberapa penyebab timbulnya penyakit adalah : Kualitas DOC jelek sehingga daya tahan terhadap penyakit rendah. Kegagalan dalam melakukan sanitasi. Kegagalan program vaksinasi. Terjadi wabah regional atau global contoh terserang penyakit Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (flu burung) dan lainnya.

3. Keadaan litter bnasah dan Kandungan gas amoniak tinggi : penyebabnya kurang kontrol dalam pemberian air minum, litter tipis, litter tidak dibalik (diaduk), temperatur terlalu rendah dan adanya kontaminasi penyakit yang menyerang saluran pencernaan. Cara mengatasi dengan menaburkan zeolit (kapur pertanian) dan mengganti serta mengaduk littter.

4. Ayam mati mendadak : disebabkan adanya wabah penyakit juga naiknya suhu dalam kandang sehingga menimbulkan stress pada ayam. Cara mengatasi dengan menggunakan blower, menyemprotkan air pada atap kandang dan menanam pohon disekitar kandang (jarak 5 – 10 meter dari kandang)

5. Terjadi Kanibalisme : disebabkan kapasitas terlalu padat, temperatur dalam kandang tinggi, intensitas cahaya terlalu tinggi terjadi defisiensi mineral dan infeksi parasit.

6. Konversi pakan yang tinggi : beberapa penyebab konversi pakan yang tingggi adalah : Ayam sakit diikuti dengan tingkat kematian tinggi terutama pada ayam dewasa (siap panen). Banyak pakan terbuang; kasus ini terjadi pada kandang yang menggunakan tampat pakan manual. Banyaknya pakan yang terbuang akan mempengaruhi secara tidak langsung pada performa ayam karena akan mempengaruhi perhitungan konversi ransum. Cara mengatasi dengan memberikan pakan hati-hati dan tidak terburu-buru atau dengan cara sistem pemberian pakan terbatas (penjatahan). Sering terjadi kebocoran (pencurian). Kandungan gas amoniak dalam kandang tinggi: gas amoniak akan berpengaruh pada kesehatan ayam yang akan mempengaruhi performa ayam. Temperatur di dalam kandang tinggi; sering memicu stress pada ayam. Kualitas pakan jelek; ransum yang jelek tidak akan memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan ayam sehingga menyebabkan pertumbuhan ayam tidak optimal. Sehingga secara kuantitatif pakan yang diberikan relatif tinggi tetapi berat badan ayam tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan akibatnya konversi pakan menjadi tinggi. Cara mengatasi dengan memberikan pakan yang berkualitas dengan kandungan nutrisi lengkap dan jumlah pakan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan umur ayam.

VAKSINASI

Vaksin adalah mikroorganisme yang dilemahkan dan apabila diberikan kepada ternak tidak akan menimbulkan penyakit, melainkan merangsang pembentukan antibodi (zat kebal) dengan tujuan untuk memberikann kekebalan sesuai dengan jenis mikroorganisme penyakit. Vaksinasi merupakan proses memasukkan vaksin dengan tujuan untuk membentuk kekebalan pada ternak unggas yang disesuaikan dengan program vaksinasi.

Jenis-jenis / Tipe Vaksin

1. Vaksin Virus Hidup (Live Virus Vaccine)

Merupakan virus di dalam vaksin yang masih hidup dan memiliki kemampuan yang lengkap untuk menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit sehingga bias menangkal penyakit yang menyerang tubuh ayam.

2 Vaksin yang Dilemahkan (Attenvated Vaccine)

Vaksin yang dibuat dengan cara melemahkan organisme aktif sehingga ketika diberikan kepada ayam akan menghasilkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dalam bentuk yang lebih ringan.

3. Vaksin yang Dimatikan (Killed Vaccine)

Organisme yang digunakan untuk menghasilkan vaksin telah dimatikan dan tidak memiliki kemampuan menularkan penyakit kepada terbak unggas, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk membentuk antibody ketika vaksin digunakan.

Cara Melakukan Vaksinasi

1. Tetes Mata (Intra Occular)

Melaksanakan vaksinasi dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam.

2. Tetes Hidung (Intra Nasal)

Vaksinasi dengan cara meneteskan vaksin kedalam lubang hidung dan tutup salah satu lubang hidung saat meneteskan vaksin dan lepaskan setelah vaksin terhirup.

3. Melalui Mulut (Oral)

Vaksinasi melalui mulut dengan cara mencekok secara individu sehingga setiap ayam mendapatkan dosis yang sama.

4. Suntik Daging (Intra Muscular)

Vaksinasi dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin kedalam daging, biasanya bagian dada atau paha. Vaksin yang disuntikkan bisa berupa vaksin hidup atau vaksin mati.

5. Suntik Bawah Kulit (Subcutaneous)

Vaksinasi dilakukan dengan cara menyuntikkan vaksin dibawah kult dilakukan dibawah leher.

6. Penyemprotan (Spray)

Vaksinasi ini sering digunakan untuk memberikan vaksin ayam berumur satu hari. Sebelum ayam dimasukkan kedalam pemanas alat semprot yang akan digunakan sudah terpasang sehingga boks ayan bisa langsung dimasukkan ke dalam kotak sprayer. Setelah semua komponen siap vaksinasi segera dilakukan dengan cara menyemprotkan vaksin seabanyak 1 – 2 kali. Aplikasi vaksinasi ayam besar dilakukan dengan menggunakan sprayer khusus. Aplikasi ini akan lebih efektif jika dilakukan dilingkungan kandang tertutup.

7. Tusuk Jarum (Wing Web)

Vaksinasi dilakukan dengan menusukkan jarum disekitar selaput sayap ayam dari arah bagian dalam sayap.

8. Melalui Pakan (Feeding)

Vaksinasi dilakukan dengan cara mencampur vaksin kedalam pakan ayam. Cara ini biasanya digunakan untuk aplikasi vaksin cocci. Pakan yang digunakan harus bebas dari preparat anticocci (amprolivim, sulfaquinoxaline dan preparat sulfa lainnya)

ProgramVaksinasi

1. Program Vaksinasi pada Ayam Broiler Komersial

Umur (hari)

Jenis Vaksin

Dosis

Aplikasi

Keterangan

4

ND Killed

ND Live

0,5 Ds (normal)

Normal

Subcutan

Tetes Mata


9 – 12

IBD Live

Normal

Air Minum

Tets Mulut


18 - 23

IBD Live

Normal

Air Minum

Dilakukan untuk daerah dengan serangan IBD yang ganas

21

ND Live

Normal

Air Minum


35

ND Live

Normal

Air Minum

Jika dipanen pada umur besar

2. Program Vaksinasi pada Ayam Broiler Breeder

Umur (hari)

Jenis Vaksin

Dosis

Aplikasi

Keterangan

1

IBH 120 Live

Normal

Spray/tetes mata


3

Cocci

0,75 cc

Tetes mata


5

ND lasotta

Normal

Tetes mata


12

IBD live

BD Killed

Normal

0,26 cc

Tetes mata

Intramuscular


21

ND - IB Live

ND Killed

Normal

0,25 cc

Tetes mata

Subcutan

Bisa ditambah AI

24

IBD Intermediate

Fowl fox

Normal

Normal

Oral

Wingweb


42

ND Lasotta

Normal

Tetes mata

Bisa ditambah ND

49

ILT Live

Coryza

Normal

0,5 cc

Tetes mata

Intramuscular


70

AE

Normal

Tetes mata


84

ND + IB Live

Normal

Tetes mata


98

EDS + fowlfox

Cholera killed

0,5 cc

Intramuscular


119

ILT Live

Coryza II

Normal

0,5 cc

Tetes mata

Intramuscular


126

ND + IB Live

ND-IB-IBD killed

Normal

0,5 cc

Tetes mata

Intramuscular


133

Fowlfox

Cholera Live

Normal

Wingweb


168

ND Live + Coryza killed

Normal

0,5 cc

Air Minum

Intramuscular

Booster dilakukan setiap 6 – 8 minggu sekali

Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan Dalam Melakukan Vaksinasi

1. Kondisi Ayam

· Ayam harus sehat sebab vaksin adalah bibit penyakit yang dilemahkan jika ayam dalam keadaan sakit vaksin bukan mencegah penyakit namun membuat ayam akan terkena penyakit.

· Pelaksanaan vaksinasi harus hati-hati agar terhindar dari stress fisik berlebihan.

· Pelaksanaan vaksinasi harus sesuai dengan rekomendasi.

2. Jadwal Vaksinasi

· Mengetahui waktu penyakit biasa menyerang sehingga vaksinasi dilakukan sebelum penuyakit tersebut menyerang.

· Mengetahui jenis vaksin yang akan digunakan berdasarkan umur ayam yang akan divaksin.

· Mengetahui tanggal rencana pelaksanaan vaksin

3. Laporan Kegiatan Vaksinasi

· Tanggal pelaksanaan vaksin harus dicatat sebagai bahan untuk mengontrol hasil vaksinasi dan administrasi.

· Nama perusahaan dan nomor seri vaksin dicatat untuk memudahkan komplain jika ada masalah dengan hasil vaksinasi.

· Nama pelaksana vaksinasi harus dicatat karena kegagalan juga bisa disebabkan kesalahan pelaksanaan.

4. Mnghindari Faktor yang dapat Mematikan Vaksin

· Sinar matahari langsung dapat mematikan vaksin, sehingga pelaksanaan vaksin sebaiknya dilakukan pada malam hari.

· Deterjen dan desinfektan

· Pencampuran vaksin seperti mencampur vaksin live dengan pelarut, lalu dikocok dengan keras. Tindakan yang benar adalah mencampur vaksin dengan pelarut lalu secara perlahan digoyang dengan gerakan tangan menbentuk angka delapan.

· Pelaksanaan vaksinasi tidak sesuai dengan prosedur.

· Penyimpanan tidak sesuai dengan rekomendasi produsen vaksin. Vaksi harus disimpan pada suhu 4 – 80 C, namun pelaksanaannya disimpan di freezer dengan temperatur dibawah 00 C.

5. Perlakuan Pasca Vaksinasi

· Memberikan vitamin selama 3-5 hari, tergantung dari kondisi ayam.

Memusnahkan bekas vaksin . botol atau bekas vaksin lainnya direbus dan dibakar. Peralatan vaksin seperti vaksination gun harus segera dibersikan dan direbus